Perawatan Ortodonti untuk Orangtua

Akhir-akhir ini tren kawat gigi/behel sering kita lihat. Bahkan tidak jarang pula pemakaian kawat gigi/behel tersebut bertujuan untuk sekadar bergaya. Meskipun begitu, pemakaian kawat gigi/behel tidak bisa dilakukan sembarangan. Pasalnya, pemakaian kawat gigi/behel yang dilakukan secara serampangan bisa saja malah merusak struktur gigi.

Di samping itu, kebanyakan kita melihat pemakai kawat gigi/behel adalah usia muda mulai dari anak-anak remaja hingga dewasa. Namun bukan berarti usia tua tidak boleh mengenakannya. Bahkan pada usia dewasa tua dan usia tua, manfaat besar pun dapat diperoleh dari perawatan ortodonti ini.

Dokter Gigi Spesialis Ortodonti RSI Yarsis Surakarta, Drg Slamet Basuki R SpOrt, atau lebih akrab disapa dr Memed, saat ditemui Joglosemar, Kamis (12/4), di ruangannya, menuturkan beberapa hal yang harus diperhatikan untuk perawatan ortodonti pada usia dewasa tua yaitu ada tidaknya penyakit periodontal serta gigi yang tanggal. “Dalam hal ini, kontra indikasi perawatan ortodonti adalah periodontitis. Pasalnya, jika dipaksakan memakai kawat gigi cekat, justru dapat merusak. Hal itu disebabkan adanya gaya yang dikenakan pada kawat gigi yang akan memperparah periodontitis,” ungkapnya.

Adanya periodontitis secara otomatis telah ada kerusakan jaringan struktur gigi. Sedangkan kawat gigi cekat atau behel memiliki mekanisme memindahkan gigi yang berpengaruh besar pada jaringan struktur gigi pula. Maka dari itu, pada dewasa tua yang tetap menginginkan perawatan ortodonti harus menghilangkan terlebih dulu masalah periodontitis yang ada.

Sementara itu, pemakaian kawat gigi/behel memiliki tiga sifat yakni medis, estetika medis dan estetika. Tujuan perawatan kawat gigi adalah untuk menciptakan hubungan kontak sebaik mungkin dengan estetika wajah yang baik. Selain itu, secara kesehatan, ortodonti juga dapat memperbaiki kelainan oklusi atau kegagalan relasi gigi pada rahang atas dan rahang bawah. Dengan kata lain, tujuan utama dari perawatan ortodonti adalah mendapatkan penampilan susunan gigi dan wajah yang menyenangkan secara estetika dengan fungsi yang baik dan gigi-gigi dalam posisi stabil.

Dr Memed menambahkan, beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan pada usia tua yang hendak melakukan perawatan ortodonti yakni pencabutan gigi pada usia tua berbeda dengan usia muda. Jika pada usia muda, kebanyakan gigi masih ada dan bisa ditentukan perawatan setelahnya jika memang ada gigi yang dicabut. “Misalnya pencabutan gigi premolar atau gigi belakang taring di mana tergantung pada kondisi gigi. Jika ada gigi yang lebih baik untuk dicabut, maka pilih yang lain. Kemudian pada usia tua, pada fase penyelesaian mungkin tetap diperlukan gigi tiruan,” imbuhnya.

Di sisi lain, pada dewasa tua juga sering kali tidak ada gigi geraham. Sehingga untuk mendapatkan penjangkar harus menggunakan mikro implant orto yang langsung ditancapkan ke tulang antara geraham satu dan dua. Namun begitu, tingkat kepentingan perawatan ortodonti pada setiap usia pada umumnya sama. “Tapi hal itu dikembalikan pada masing-masing individu di mana perawatan ortodonti harus dilakukan untuk memperoleh manfaat kesehatan dan estetika,” papar dr Memed.

Selain itu, perawatan ortodonti juga mengembalikan fungsi yang tidak normal. Susunan gigi yang maju pada rahang atas maupun rahang bawah, gigi yang tidak teratur, gigi yang renggang menyebabkan senyum kurang menarik. Di samping itu pada gigi yang tidak rapi proses pembersihannya sulit sehingga dapat menyebabkan gigi berlubang, penyakit gusi, bahkan dapat mengakibatkan gigi tanggal.

Gigi Berjejal

Gigi belakang yang tidak kontak juga menyebabkan kesulitan pada waktu mengunyah, makanan menjadi tidak lembut sehingga bisa menimbulkan gangguan pencernaan. Kemudian pada gigi depan yang tidak kontak atau gigitan terbuka menyebabkan gangguan fungsi bicara, di mana tidak dapat mengucapkan vokal tertentu dengan jelas atau celat. Pada kasus-kasus tersebut jika tidak dirawat akan menyebabkan penggunaan yang tidak normal pada permukaan gigi, tidak efektifnya fungsi pengunyahan, tekanan yang berlebihan pada gusi dan tulang yang mendukung gigi atau sendi rahang, bahkan dapat menimbulkan sakit kepala, sakit pada leher dan wajah.

Namun pada dasarnya, perawatan ortodonti sebaiknya dilakukan sejak dini. Mulai dari anak-anak hingga dewasa muda. Kondisi tersebut berkaitan dengan perawatan ortodonti yang berhubungan dengan ruang di mana gigi tumbuh dengan baik. Pada perawatan ortodonti bisa disertai pencabutan atau tanpa pencabutan, tergantung ruang yang tersedia. Kemudian pengendalian bisa dilakukan ke gigi atau tulang misalnya pada pertumbuhan tulang abnormal pada dagu yang melebihi rahang atas.

Beberapa keadaan gigi yang memerlukan perawatan ortodonti di antaranya adalah gigi berjejal atau tidak rapi, gigi renggang, gigi maju pada rahang atas (mrongos), gigi maju pada rahang bawah (gugut). Selain itu, adanya kelainan sendi rahang (sakit sendi rahang/berbunyi), kesulitan mengunyah karena gigi belakang tidak kontak juga dapat melakukan perawatan ortodonti. “Kebiasaan buruk seperti menghisap ibu jari, bernapas lewat mulut, atau suka menggigit kuku dan barang lainnya yang memberikan perubahan pada struktur gigi juga dapat diatasi dengan perawatan ortodonti. Atau bisa juga perawatan ortodonti dilakukan pada gigi permanen yang hilang karena kecelakaan atau dicabut,” tandas dr Memed.

 

 

http://www.edisicetak.joglosemar.co/berita/perawatan-ortodonti-untuk-orangtua-71583.html





Copyright © Gresik Orthodontic